Sabtu, 14 Januari 2012

”Abu Bakr Ibn Tufayl Dokter Agung dan Pengarang Kisah Fiksi Hayy ibn Yaqzan - Si Pencari Tuhan ”



MAKALAH SEJARAH PEMIKIRAN MODERN
”Abu Bakr Ibn Tufayl Dokter Agung dan Pengarang Kisah Fiksi Hayy ibn Yaqzan - Si Pencari Tuhan


Trisakti Agriani   NIM. 105110100111020
                                                                                                

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
PROGRAM STUDI SASTRA INGGRIS
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG

A.    Biografi singkat Abu Bakr Ibn Tufayl
Nama lengkap Ibnu Thufayl adalah Abu Bakr Muhammad Ibn ‘Abd al-Malik ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Tufayl al-Qaysi. Lewat karya-karya tulisnya, Ibnu Thufayl dikenal sebagai salah satu filosof Spanyol yang menganut Neo-Platonis (al-aflatuniyat al-muhdatha), sebuah sintesa kreatif antara Pythagorian, Platonis, Aristotelian, dan filosofi Stoic, yang diramu dengan spirit relijius. Ibnu Thufayl merupakan sebuah figur “perlawanan Andalusia” terhadap astronomi Ptolemaic, sebuah gerakan kritis yang kemudian dilanjutkan oleh teman sekaligus murid dari ibnu Thufayl, yakni al-Bitruji. Di barat beliau dikenal dengan sebutan Abubacer. Ia dilahirkan di guandix, 40 Mil di laut Granada pada 506 H (1110 M) dan meninggal di kota Marraqesh, maroko pada 581 H (1185 M). Sebagai seorang turunan suku Quasy, suku arab termuka, beliau dengan mudah mendapatkan fasilitas belajar, apalagi kecintaannya kepada buku-buku dan ilmu pengetahuan mengalahkan cintanya kepada manusia.
Hal ini mengantarkannya menjadi seorang ilmuwan dalam banyak bidang, seperti lazimnya ilmu pada masa itu, meliputi kedokteran, kesustraan, matematika, dan filsafat. Kedokteran dan filsafat di pelajarinya di Seville gordova.Dia menulis beberapa buku mengenai filsafat murni yang sudah jarang sekali ditulis, termasuk pemeliharaan jiwa lewat filsafat. Setelah beranjak dewasa, Ibnu Tufail berguru kepada Ibnu Bajjah (1100-1138 M), seorang ilmuwan besar yang memiliki banyak keahlian. Berkat bimbingan sang guru yang multitalenta itu, Ibnu Tufail pun menjelma menjadi seorang ilmuwan besar.Pada mulanya ia adalah seorang yang ahli dalam bidang kedokteran, dan menjadi terkenal di bidangnya itu.Keahlianya dalam bidangnya telah dipraktekkan nya di Granada.Kemudian ketenarannya sebagai dokter itu membawa namanya lebih dikenal di dalam pemerintahan, sehingga dia diambil oleh gubernur Granada menjadi sekretarisnya.Pada tahun 549 H ia dipindahkan menjadi sekretaris pribadi gubernur Ceuta. Keharuman namanya kian semerbak sehingga ia diangkat oleh Abu Ya’qub Yusuf Al-Manshur khalifah daulah Muwahhidin menjadi dokter pribadi merangkap sebagai wazirnya. Dan beliau juga meminta kepada Ibnu Thufail untuk menguraikan buku-bukunya Aristoteles.Untuk memenuhi permintaan tersebut, Ibnu Thuffail menghadapkan Abd Walid Ibn Rusyd kepada khalifah dan mencalonkan untuk pekerjaan tersebut. Al-Walid diterima dengan baik oleh khalifah dan menunaikan pekerjaanya dengan baik .
Selain dikenal sebagai dokter dan filsuf besar, Ibnu Tufail menguasai ilmu hukum dan ilmu pendidikan. Ibnu Tufail pun dicatat dalam sejarah peradaban Islam sebagai seorang penulis, novelis, dan ahli agama.Ibnu Thufail sebenarnya mempunyai banyak karya, baik dalam bidang filsafat maupun yang lain (fisika dan sastra).Dari sejumlah karyanya yang dinisbatkan kepadanya, diantaranya adalah Risalah fi Asrar al-hikmah al-Masyriqiyah (Hayy ibn Yaqzhan)Rasa’il fi an-Nafs, Biqa’ al-Maskunah wa Al-Ghair al-Maskunah.Selain itu, dia juga memiliki beberapa buku tentang kedokteran, serta risalah yang berisi sekumpulan surat-menyurat yang ia lakukan dengan ibn Rusyddalam berbagai persoalan filsafat.Ibn Rusyd menyatakan bahwa ibn Thufail mempunyai teori-teori yang cemerlang dalam lmu falak.Ibnu Tufail juga termasyhur sebagai seorang politikus ulung. Kariernya di bidang politik dan pemerintahan juga terbilang sangat baik. Ia sempat ditahbiskan sebagai pejabat di pengadilan Spanyol Islam. Tak cuma itu, Ibnu Tufail pun dipercaya Sultan Dinasti Muwahiddun menduduki jabatan menteri hingga menjadi gubernur untuk wilayah Sabtah dan Tonjah di Magribi dan sekretaris penguasa Granada.
Ketika usia beliau sudah lanjut, ia meminta berhenti dari jabatan nya yang diajukan untuk menduduki jabatan tersebut.Meskipun ibnu Thuffail sudah bebas dari jabatanya, namun penghargaan Abu Ya’kub masih seperti dulu, malahan setelah khalifah Abu Ya’kub meninggal dan diganti dengan oleh putranya Abu Yusuf Al-Mansyur penghargaan itu masih tetap diterima oleh ibnu Thuffail.Ketika ibnu Tuffail meninggal dunia di Maroko pada tahun 581 H(1185 M)Abu Yusuf pun ikut menghadiri pemakaman jenazahnya.
Namun yang menjadi kunci dari rekonsiliasi dari pemikirannya adalah fabel filsafat yang dia tulis, berjudul Hayy Ibn Yaqzan.

B.    Pemikiran Abu Bakr Ibn Tufayl
·        Filsafat
 Inti dari pemikiran ibn tuffayl termuat dalam karyanya Hayy Ibn Yaqzhan. Antara akal dan wahyu tidaklah memiliki kontradiksi yang begitu besar. Bahkan keduanya dapat memiliki satu visi dan tujuan yang sama tentang kebenaran. Dan juga akan memiliki titik keindahan bila keduanya dapat digabungkan. Bahwa jalan yang ditunjukkan oleh agama dapat diperoleh dengan intelektualitas manusia, yang cenderung berhasrat untuk terus bertanya dan mencoba menjawab apa yang ada, dan juga oleh wahyu yang dapat dijadikan petunjuk tetap menuju satu kebenaran. Keduanya sama-sama dapat menuju kebenaran, demikian pesan yang ingin disampaikan Ibn Thufail pada kita dalam karya monumentalnya, Hayy Ibn Yaqdzan.  Dalam karyanya ini, Ibn Thufail seperti merasa jengah dengan pertikaian dua proyektor besar dalam proses pencarian kebenaran, filsafat dan wahyu. Pertikaian yang diledakkan oleh al-Ghazali dengan Tahafut al-Falasifah-nya, menentang Ibn Sina dan al-Farabi dengan ajaran Aristotelian mereka. Pertikaian yang pada dasarnya ada pada ketidaksetujuan al-Ghazali yang fokus pada tiga ajaran para filososof, terutama Ibn Sina dan al-Farabi, tentang keabadian alam, penolakan bangkitnya jasmani setelah mati, dan pengetahuan Tuhan yang universal. Ketiga hal yang benar-benar dianggap oleh al-Ghazali sebagai penyalahgunaan rasio untuk menyelewengkan agama.Pertikaian ini coba didamaikan Ibn Thufail dengan mengatakan bahwa antara keduanya tidaklah jauh berbeda dalam memandang kebenaran yang sama, eksternal dan internal. Pemahaman agama melalui wahyu dan pemahaman agama melalui penalaran, melihat kebenaran dari sisi yang berbeda dengan hakikat yang sama.
·        Dunia
Apakah dunia itu kekal, atau diciptakan dari ketiadaan atas kehendak-Nya.Inilah salah satu masalah penting yang paling menentang dalam filosofis muslim Ibnu Tufail sejalan dengan kemahiran dialektisnya menghadapi masalah itu dengan tepat. Dia tidak menganut salah satu doktrin saingannya, dan dia juga tidak berusaha mendamaikan mereka. Dilain pihak dia mengecam dengan pedas pengikut Aristoteles dan sikap-sikap teologis. Kekekalan dunia melibatkan konsep eksistensi tak terbatas. Eksistensi semacam itu tidak dapat lepas dari kejadian-kejadian yang diciptakan dan tidak mungkin ada sebelum kejadian-kejadian yang tercipta itu pasti tercipta secara lambat laun.Ia mengemukakan bahwa gagasan mengenai kemaujudan sebelum ketidak maujudan tidak dapat difahami tanpa anggapan bahwa waktu itu telah ada sebelum dunia ada, akan tetapi waktu itu sendiri merupakan suatu kejadian tak terpisahkan dari dunia, dan karena itu kemaujudannya mendahului kemaujudan dunia. Segala yang tercipta pasti membutuhkan pencipta. Tidak ada sesuatupun ada sebelum Dia, dan segala sesuatu pasti ada dan akan terjadi atas kehendak-Nya. Antinomi (kontradiksi antar prinsip) ini dengan jelas menerangkan bahwa kemampuan nalar (Kant) ada batasnya dan argumentasinya akan mendatangkan kontradiksi yang membingungkan.
·        Tuhan
Penciptaan dunia yang lambat laun itu mensyaratkan adanya satu pencipta yang mesti bersifat immaterial, sebab materi yang merupakan suatu kejadian dunia diciptakan oleh satu pencipta. Dunia tak bisa maujud dengan sendirinya, pasti dan harus ada penciptanya.Jika Tuhan bersifat material, maka akan membawa suatu kemunduran yang tiada akhir. Oleh karena itu, dunia ini pasti mempunyai pencipta yang tidak berwujud benda, dan karena Dia bersifat immaterial, maka kita tidak bisa mengenali-Nya lewat indera kita atau lewat imajinasi. Sebab imajinasi hanya menggambarkan hal-hal yang dapat ditangkap oleh indera.
·        Kosmologi Cahaya.
Manifestasi kemajemukan dari yang satu dijelaskan dalam gaya Neo-Platonik yang monoton, sebagai tahap berurutan pemancaran yang berasal dari cahaya Tuhan.Proses tersebut pada prinsipnya sama dengan refleksi terus menerus cahaya matahari pada cermin. Cahaya matahari yang jatuh pada cermin menunjukkan kemajemukan. Semua itu merupakan pantulan cahaya matahari, bukan matahari itu sendiri, juga bukan cermin itu sendiri. Hal yang sama berlaku juga pada cahaya pertama (Tuhan) beserta perwujudannya di dalam kosmos.
·        Epistimologi
Jiwa dalam tahap awalnya bukanlah suatu tabula rasa atau papan tulis kosong. Melainkan Imaji Tuhan telah tersirat didalamnya sejak awal, tetapi untuk menjadikannya tampak nyata, kita perlu memulai dengan pikiran yang jernih tanpa prasangka.Pengalaman merupakan suatu proses mengenal lingkungan lewat indera. Organ-ogan indra ini berfungsi berkat jiwa yang ada dalam hati. Pengamatan memberi kita pengetahuan mengenai benda-benda yang induktif, dengan alat pembanding dan pembedanya dikelompokkan menjadi mineral, tanaman, dan hewan. Setiap kelompok benda ini memperlihatkan fungsi-fungsi tertentu yang membuat kita menerima bentuk-bentuk atau jiwa-jiwa sebagai penyebab fungsi-fungsi tertentu berbagai benda.Ibnu Tufail akhirnya berpaling kepada disiplin jiwa yang membawa kepada ekstase, sumber tertinggi pengetahuan. Dalam taraf ini, kebenaran tidak lagi dicapai lewat proses deduksi atau induksi, melainkan secara langsung dan intuitif lewat cahaya yang ada didalamnya. Jiwa menjadi sadar diri dan mengalami apa yang tak pernah dilihat mata, didengar telinga, atau dirasa oleh hati.
·        Etika
Bukan kebahagiaan duniawi, melainkan penyatuan sepenuhnya dengan Tuhanlah yang merupakan “summum bukmun” (kebaikan tertinggi) etika. Perwujudannya setelah pengembangan akal induktif dan deduktif.Menurutnya manusia merupakan perpaduan suatu tubuh jiwa hewani dan esensi non-bendawi, dengan demikian menggambarkan binatang, angkasa, dan Tuhan. Karena itulah pendakian jiwanya terletak pada pemuasan ketiga aspek tersebut. Pertama, ia terikat untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya serta menjaganya dari cuaca buruk dan binatang buas. Kedua, menuntut darinya kebersihan pakaian dan tubuh, kebaikan terhadap objek-objek hidup dan tak hidup. Ketiga, yaitu pengetahuan, kekuasaan, kebijaksanaan, kebebasan dari keinginan jasmaniah.
·        Filsafat dan Agama
Filsafat dilain pihak merupakan bagian dari kebenaran esoteris. Ia berupaya menafsirkan lambang-lambang agama tentang konsep-konsep imaji murni yang berpuncak pada suatu keadaan yang didalamnya terdapat esensi ketuhanan dan pengetahuannya menjadi satu. Persepsi rasa, nalar, dan intuisi merupakan dasar-dasar pengetahuan filsafat. Para nabi pun memiliki intuisi, sumber utama pengetahuan mereka adalah wahyu Tuhan. Pengetahuan nabi didapat secara langsung dan pribadi, sedangkan pengetahuan para pengikutnya didapat dari wasiat.
·        Jiwa
Konsep ibn thufail tentang sejiwa sejalan dengan yang dikemukakan oleh Al-Farabi, yakni ada tiga kategori yaitu :
a.      Pertama : jiwa fadhilah, yakni yang kekal dalam kebahagiaan karena mengenal tuhan dan terus mengarahkan perhatian dan renungan kepadan-nya.
b.      Kedua : Jiwa fasiqoh, yakni jiwa yang kekal dalam kesengsaraan dan tempatnya di Neraka.
c.       Ketiga : jiwa jahiliyah, yakni jiwa yang musnah karena karena tidak mengenal allah sama sekali, jiwa jenis ini sama halnya dengan hewan melata.
Ibn thufail menawarkan tiga jenis amaliah yang harus di terapkan dalam hidup, ketiganya adalah :
1. Amaliah yang menyerupai hewan.
2. Amaliah yang menyerupai benda angkasa, dan
3. Amaliah yang menyerupai al-wajib al-wujud.

Amaliah yang pertama sedikit unik, karena amaliah tersebut dibutuhkan tetapi juga menjadi penghalang untuk meningkat kepada amaliah berikutnya yang lebih tinggi, amaliah yang kedua adalah hubungan yang baik dengan dibawahnya, dengan dirinya dan dengan tuhannya. Amaliah ketiga ini akan mampu mengantar kepada kebahagiaan abadi sebagai sasaran akhir dari prinsip moral. Ibn Thufail mengajarkan agar jiwa berhubungan atau musyahadah secara terus menerus sejak dari kehidupan di dunia sampai kehidupan abadi. Upaya kearah itu dengan renungan kontemplatif dan fana-mistika. Manusia dapat berhubungan dan menyaksikan tuhannya tidak saja dengan akalnya, juga melalui rohaninya.
·       Sinopsis Buku Hayy Ibn Yaqzan karya Abu Bakr Ibn Tufayl
Hayy itu seorang anak alam, yang terlahir sendiri pada suatu pulau terpencil, kemudian melalui tujuh siklus tujuh tahun memperoleh, berkat pemikiran sendiri, derajat kebijaksanaan tertinggi.Hayy, setelah lahir menangis kehausan lalu disusui oleh seekor rusa betina dan dibimbing olehnya selama tujuh tahun. Hayy bergaul dengan margasatwa dan belajar dari mereka, olah dan meniru tingkah lakunya dalam mencari rezeki dan bertahan hidup. Segera dia merasa malu karena di tengah-tengah hewan lain yang semuanya berpakaian alam hany dia sendiri bertelanjang, tanpa bulu atau ekor untuk menutupi aurat, dan tanpa cakar atau tanduk untuk membela diri. Maka dia membuat cawat dari daun-daunan tapi itu ternyata lekas rusak, lalu dia membuat serat yang ditenun dan dijahit menjadi pakaian. Untuk pengganti tanduk dia membuat alat-alat untuk membela diri dan berburu, dari kulit hewan dibuatnya sepatu dan dia juga memndirikan tempat berteduh.Ketika Hayy masuk tujuh tahun kedua, rusa yang mengasuhnya mati. Dia heran sekali. Tubuh rusa tidak berubah, mengapa dia tidak bergerak lagi? Hayy lalu membedah tubuh rusa, menyelidiki organ-organnya dan darah, sampai mengerti bahwa jantung merupakan organ yang menghidupkan tubuh. Penemuan itu mengasikkannya, sehingga setiap mayat yang ditemukannya disayat dan diselidiki. Sehingga Hayy tidak saja mahir dalam ilmu anatomi tapi juga belajar bahwasanya masing-masing kegiatan badaniyah digerakkan oleh satu daya/kekuatan sentral yang tidak bersifat material jasad, melainkan bersifat RUHANI. Kekuatan itu disebutnya JIWA.

Pada usia 21 tahun Hayy memperoleh kesadaran diri sebagai pribadi, yang secara asasi satu, tetapi mampu untuk mengetahui aneka warna hal, asal dipersatukan dengan akal. Dia merenungkan tentang tatatertib dan tujuan segala-galanya dan menemukan adanya hubungan wajib antara sebab dan akibat yang menguasai tata alam raya dan tata budi.Tujuh tahun kemudian (pada usia 28 tahun) budinya terbuka untuk menggunakan silogisme sebagai jalan pengetahuan baru. Dia menatap cakrawala, mempelajari gerak bintang-bintang dan matahari, lalu menjadi mahir dalam ilmu falak atau astronomi.

Pada usia 35 tahun timbullah pertanyaan mengenai asal mula alam dunia. Bila alam berasal dari alam materiil lain, akan terdapat proses berantai tanpa akhir(tasalsul) dan ini mustahil. Jadi kesimpulannya; alam pasti dibuat oleh pembuat alam yang bersifat Ruhani/Ghoib. Bertahun-tahun lamanya Hayy berfikir tentangnya.
Selama tujuh tahun keenam Hayy tidak habis memikirkan tentang sumber mulia dari segala yang ada. DIA pasti Maha Baik dan Maha Bijaksana, Sempurna dan penuh Rahmat serta merupakan tujuan manusia. Demikian Hayy menyusun konsep ketuhananan tanpa dogmatisme ataupun pertolongan wahyu. Hayy menjadi insaf bahwa tujuan, kebahagian dan perwujudan diri sejati terletak pada konsentrasi pikiran terus-menerus kepada Tuhan. Itulah juga dalam “hidup di balik maut”, karena jiwa sebagai wujud ruhani tidak mungkin hancur. Dia juga tahu bahwa, bila jiwa insani, yang diperuntukkan untuk untuk hidup abadi di hadirat Tuhan, mengikuti hawa nafsu maka pasti kehilangan Tuhan dan setelah maut akan menderita selama-lamanya. Itulah fikiran yang menggelisahkan Hayy. Seumpamanya dia, terkejut oleh teriakan hewan atau sibuk memuaskan lapar dahaga, lupa akan Tuhan dan terkena mati, adia akan dihukum atas kelalaiannya dengan hukuman abadi. Maka Hayy makin berprihatin untuk memusatkan fikirannya kepada Tuhan. Hayy hanya makan dan minum sejauh perlu, agar jangan mengganggu meditasinya. Dia meniru falak-falak sempurna oleh pembersihan diri dan berjalan dalam lingkaran (thawaf) sesuai peredaran falak di atasnya sampai merasa pusing.

Sesudah tujuh kali tujuh tahun lewat, Hayy memperoleh puncak meditasi, tetap mengingati Tuhan dalam keadaan jiwa yang tak mungkin dapat diungkapkan dengan kata-kata. Itulah kebahagiaan sempurna “yang tidak dapat dilihat mata, tidak didengar oleh telinga, dan tidak keluar dari hati manusia”. Dia mendapatkan taraf fana billah.

Terkisahlah pada suatu pulau yang lain terdapat dua orang muslim yang bertengkaran tentang hidup yang baik, Absal dan Salaman nama masing-masing. Absal, seorang ahli tasawwuf, berusaha memahami dimensi batin dari syariat, sedangkan Salaman menta'ati semua peraturan dan upacara lahir. Maka Absal pamit dari Salaman, dan dalam mencari jalan keluar mendaratlah dia di pulau kediaman Hayy. Mereka memberitakan satu kepada yang lain pengalaman ruhani dan menyadari diri sebagai manusia untuk Tuhan.

Hayy mendengar isi ajaran Islam, sangat terkejut: isi ruhaninya terlalu sedikit dan terlalu banyak aturan lahiriah tentang fardhu, sunah, mubah, makruh dll. Hayy heran bahwa hanya satu bulan per tahun disucikan oleh puasa bagi Tuhan.Mengapa bukan semua bulan? Dia tersinggung oleh lukisan sensuil tentang surga dan waktu terbatas neraka menurut Qur'an, Setelah banyak tukar fikiran, akhirnya Absal menemui jalan ke tafsir kiasan (thamthil) mengenai Qur'an. Lalu keduanya mengambil keputusan untuk kembali ke pulau kediaman Salaman dan mengajar kepada ummat disana rahasia hidup sejati.

Tibalah mereka di pulau dan disambut oleh Salaman, yang ternyata telah diangkat menjadi Raja di sana. Tetapi ketika mereka menda'wahkan keyakinan suci mereka, maka rakyat membantah dan bertengkar mulut, memperlihatkan diri sebagai budak huruf yang tidak terbuka untuk kebenaran mulia. Hayy dengan sopan meminta maaf dan mengajak mereka agar terus tekun pada upacara dan rukun agamanya tanpa mencoba memperdalamnya lebih lanjut. Akhirnya Hayy dan Absal kembali ke pulau tempat asal Hayy, melangsungkan hidupnya masing-masing menurut metodenya sendiri, mereka berusaha menempuh tata ibadah sempurna, terpisah dari masyarakat sampai ditebus oleh maut.






·       Falsafah Pemikiran Abu Bakr Ibn Tufayl melalui Buku mahakaryanya Hayy Ibn Yaqzan
http://alhakelantan.tripod.com/imagelib/sitebuilder/layout/spacer.gif
Buku ini diterjemahikan ke dalam berbagai bahasa dunia. Yang menarik dalam buku itu, Ibn Tufail berusaha menerangkan bagaimana manusia mempunyai potensi untuk mengenali Allah. Katanya, semua ini dapat dilakukan dengan membuat penelitian terhadap alam sekitar dan sekelilingnya.
 Menelusuri buku itu, Ibn Tufail mencoba merangkai satu sistem falsafah berdasarkan perkembangan pemikiran yang ada pada diri manusia. Beliau berusaha mengungkap persoalan serta hubungan antara manusia, akal, dan Tuhan. Untuk itu, beliau telah menggunakan watak Hayibn Yaqzan yang hidup di sebuah pulau di Khatulistiwa sebagai gambaran percampuran empat unsur penting dalam kehidupan iaitu panas, sejuk, kering, dan basah dengan tanah. Watak itu hidup terpencil dan dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya dengan pimpinan akal dan bantuan pancaindera. Langkah Ibn Tufail menggunakan analog watak tersebut dalam bukunya dianggap sebagai suatu perkara yang luar biasa dalam penulisan karya yang berbentuk falsafah.
 Watak itu tidak pernah mengenali kedua-dua ibu bapanya. Tetapi alam telah memberinya seekor kijang yang menyusu dan memberinya makan. Setelah dewasa, dia mengarahkan pandangannya terhadap perkara yang ada di sekelilingnya. Di sini dia mulai membahaskan tentang kejadian dan rahasia perubahan yang berlaku disekelilingnya. Pada anggapannya di sebalik alamnya terdapat sebab-sebab yang tersembunyi yang mentadbir dan membentuknya. Hay bin Yaqzan selalu membahas dan menganalisa sesuatu perkara sehingga dia mampu mengetahui bahawa kebahagian dan kesengsaraan manusia itu bergantung kepada hubungannya dengan Allah. Dengan watak "Hay" itu, Ibn Tufail berjaya membuat uraian yang menarik sekaligus membantu kita memahami pemikiran falsafahnya.
 Buku itu juga mengandungi pengamatan Ibn Tufail mengenai ilmu metafisik, matematika, fisik, dan sebagainya. Ibn Tufail melihat alam ini sebagai baru dan dianggap oleh Tuhan yang satu dan berkuasa penuh. Dalam diri manusia pula terdapat roh yang menjadi sumber dan asas kehidupan mereka di muka bumi ini. Falsafah Ibn Tufail bukan sekadar menyentuh perkara yang berkaitan dengan metafisik tetapi juga sains tabii seperti fisik. Ibn Tufail mendapati bahawa lapisan udara yang tinggi lebih sejuk dan nipis daripada lapisan yang rendah. Hal ini disebabkan kepanasan berlaku di permukaan bumi bukannya di ruang dan lapisan udara.Beliau juga mendapati bahwa kepanasan boleh dihasilkan melalui gesekan, gerakan cahaya sama ada daripada apt ataupun matahari. Meskipun pandangan itu dianggap sebagai satu perkara yang biasa pada hari ini tetapi pandangan ini sebenarnya telah menyediakan landasan kepada ahli sains untuk melakukan kajian terhadap kepanasan dan segala fenomena yang berkaitan dengannya. Pemikiran falsafah Ibn Tufail juga meliputi perkara yang berhubung dengan masyarakat. Beliau menyifatkan masyarakat terdiri daripada sebahagian besar anggota-anggota yang malas. Lantaran itu, mereka mudah terpengaruhi dan terikut-ikut dengan nilai yang sedia ada tanpa mau membahaskannya.
 Ibn Tufail hidup hampir sezaman dengan Ibnu Bajjah. Maka sebab itu beliau mudah menerima pandangan falsafah Ibnu Bajjah, al-Farabi, dan beberapa ahli falsafah Islam yang lain dengan baik. Menurut separuh pengkaji dan pemikir, Ibn Tufail banyak dipengaruhi oleh falsafah Ibnu Bajjah sebagaimana yang dapat diperhatikan pada pertengahan buku Hay bin Yaqzan yang banyak membawa saranan yang terdapat dalam kitab "al-Mutawwahid". Dalam buku itu, Ibnu Bajjah telah melakukan pembelaan  terhadap  tulisan-tulisan al Farabi dan Ibnu Sina.
 Namun   begitu, Ibnu Tufail tidak menerima saran itu bulat-bulat melainkan selepas dibahaskan secara kritis. Selain itu beliau seorang yang berpegang kepada logika dalam mengungkap realita alam dan kehidupan manusia. Ibnu Thufayl memberikan gambaran tentang sebuah simpul social, yang mengubah urutan situasi pikiran dari ketiadaan panca indera menuju kepada isolasi budaya. Tujuan utama Ibnu Thufayl adalah untuk menunjukkan apa yang dapat ditemukan oleh intelejensia manusia tanpa adanya bantuan dari pihak di luar dirinya yang bersifat ketuhanan, yang menanamkan pengetahuan – penerimaan mengenai ide-ide dan kecenderungan untuk secara aktif melakukan pencarian seperti yang telah ditegaskan al-Ghazali terhadap dirinya sendiri dan apa yang telah dilakukan oleh Aristotle dengan menyusun sebuah premis ketika dia mengawali bukunya, Metaphysics, dengan kata-kata, “seluruh manusia secara naluri ingin mencari tahu”.
Pengetahuan yang dimiliki manusia melalui penginderaaan terhadap alam sekitarnya, menurutnya, merupakan salah satu bentuk pengetahuan yang ditekankan dan diakui oleh Al-Qur’an, dalam rangka mencari kebenaran. Ia menyebutkan beberapa ayat Al-Qur’an yang berkenaan dengan masalah tersebut, antara lain
Q.S. Al-Baqarah ayat 164:
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di lautan membawa apa yang berguna manusia, dan apa yang diturunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (kekuasaan) Allah bagi kaum yang berpikir.”
Maka tidak ada keraguan lagi, bahwa maksud langsung dari Al-Qur’an dengan pengamatan yang seksama tentang alam itu ialah untuk membangkitkan kesadaran tentang segala sesuatu yang ada di alam itu dipandang sebagai satu lambang dari kekuasaan-Nya. Hal ini sesuai dengan esensi serta tujuan Ibnu Thufayl dalam novelnya, Hayy Ibnu Yaqzan.Seperti fiksi lainnya, merupakan sebuah eksperimen pemikiran. Eksperimen pemikiran ini menurut beberapa pihak dibangun berdasarkan eksperimen pemikiran Ibnu Sina yang terkenal, yakni Manusia Mengambang. Nama tersebut diambil dari salah satu alegori yang ditulis Ibnu Sina selama dia dipenjara di puri Fardajan dekat dengan Hamadhan. Menurut argument Manusia Mengambang-nya Ibnu Sina, yang berulang kali dijelaskan dalam tulisan-tulisan Ibnu Sina yang non-alegori, bahwa para filosof menunjukkan esensi dari jiwa manusia, independensi jiwa manusia, dengan meminta para pembacanya untuk mencoba memahami diri mereka sendiri bagai mengambang di udara, terisolasi dari seluruh perasaan atau melepaskan perasaan, bahkan melepaskan diri dari seluruh kontak dengan bagian tubuh yang lain. Satu hal yang akan tersisa dari semua aktivitas ini – menurut Ibnu Sina – adalah kesadaran diri. Namun, benarkah pemikiran Ibnu Thufayl mengekor pemikiran filosof sebelumnya, seperti yang sering dinyatakan oleh para kritikus? Mengenai komentar para kritikus yang menyatakan bahwa Ibnu Thufayl merujuk kepada pemikiran filosof terdahulu semacam Ibnu Sina seperti yang telah disebutkan di atas, tidak sepenuhnya benar. Jika kita teliti lebih dalam karyanya akan kita dapati bahwa sesungguhnya Ibnu Thufayl dalam pemikiran fisafatnya merupakan pribadi yang independent dan memiliki orisinalitas.
Syeikh Al-Azhar terdahulu Dr. Abdul Halim Mahmud dalam bukunya Ibnu Thufyil Wa Falsafatuhu ( Ibnu Thufayl dan Filsafatnya ) telah memberikan penjelasan yang cukup argumentative. Adapun bukti yang memperlihatkan indepedensi Ibnu Thufayl dari pengaruh Al Farabi dapat kita baca dari sikap Ibnu Thufayl sendiri terhadap Al-Farabi yang mana ia telah memproklamirkan secara terang-terangan bahwa pemikiran yang terkandung dalam karya-karya Al-Farabi penuh dengan skeptisisme ( kastrah assyukuuk ) kemudian memberikan contoh dengan pendapat Al-Farabi yang mengatakan bahwa kebahagiaan hanya terdapat dalam dunia material yang kita tempati sekarang ini (addaar addunya) lalu mengkritiknya dengan ungkapannya. Menurutnya, pendapat ini telah mendorong sikap pesimis seluruh manusia dari rahmat Tuhan dan telah menempatkan orang yang memiliki keutamaan dan seorang pendosa dalam satu level.
Adapun penilaian Ibnu Thufayl terhadap filosof lain seperti Ibnu Bajah, ia mengklaim bahwa Ibnu Bajah bukanlah orang yang lebih cerdas dan lebih mempunyai pemikiran cemerlang di banding dirinya. Adapun tentang Ibnu Sina , Ibnu Thufail telah di buat kagum olehnya karena dengan ketajaman metode rasionalnya ia berhasil melangkah dan memberikan karakter pada fase atau level uuli ashidq sekalipun ia tetap menganggap Ibnu Sina bukanlah orang yang telah menceburkan diri, menghirup dan merasakan manisnya fase tersebut.
Dari sudut pandang ini dapat kita simpulkan bahwa Ibnu Thufail mempunyai pendapat dan pemikiran yang mandiri dan tidak mengekor kepada Ibnu Sina dan ia menganggap bahwa pencapaian Ibnu Sina hanya merupakan suatu fase dari fase-fase pengetahuan yang bukan merupakan esensi pengetahuan. Adapun tentang Al-Ghazali Ibnu Thufail berpendapat dengan pernyataannya “tak di ragukan lagi bahwa Syeikh Abu Hamid (Al-Ghazali) termasuk orang yang telah merasakan puncak kebahagian dan telah sampai kepada fase termulia dan kudus (fase ulu asshidq atau pengetahuan sejati dalam konteks nilai pengetahuan).

 Akan tetapi terlepas dari apresiasi Ibnu Thufail terhadap Al-Ghazali kalau kita telaah dan bandingkan lebih jauh antara pemikiran filsafat Ibnu Thufail dan Al-Ghazali akan kita dapati perbedaan yang cukup mencolok terutama sikap mereka terhadap fase aksiomatik-rasional. Di satu sisi Al-Ghazali menolak dengan tajam fase tersebut dan menganggap bahwa penalaran rasio tidak dapat mengantarkan seseorang kepada hakekat dan keyakinan, dan pernyataan Ibnu Thufail dalam roman filsafatnya terutama ketika menggambarkan tentang fase pertama ( aksiomatik-rasional ) sangat kontra produktif dengan pendapat Al-Ghazali tersebut karena di situ Ibnu Thufail masih mengakui eksistensi penalaran rasio sebagai metode mencapai pengetahuan yang merupakan fase pertama yang harus di lewati untuk mencapai pengetahuan sejati akan tetapi lebih dari itu Ibnu Thufail masih mengakui Al-Ghazali sebagai orang yang telah mencapai esensi pengetahuan yang luhur.




 Pada abad ke-14 Hayy ibn Yaqzan diterjemahkan ke dalam Bahasa Ibrani, dan pada abad ke 15, Pico Della Mirandola menerjemahkannya ke dalam Bahasa Latin. Baru kemudian, terjemahan Bahasa Inggris digarap oleh G. Keith Anggota Gereja Quaker pada tahun 1674, di sinilah inspirasi Hayy ibn Yaqzan merasuk banyak seniman barat. A.R Pastor memberi penekanan dalam bukunya the Idea of Robinson Crusoe (1930) menuturkan bahwa Robinson Crusoe karya Daniel Defoe (1660-1731) terinspirasi dari Hayy Ibn Yaqzan yang mana merupakan karya dari Abu Bakr Ibn Tufayl. Dari kisah Hayy ibn Yaqzan, ada beberapa fondasi penting konsep ekonomi yang bisa kita telaah. Pertama, tahap awal pembangunan sangat dipengaruhi kondisi lingkungan sebuah masyarakat. Ketepatan diagnosa kondisi mempengaruhi keberhasilan. Pada tahap awal ini, sebuah masyarakat/negara melakukan “imitasi” kebijakan ekonomi dengan menghadap kebijakan negara/masyarakat lain yang telah maju. Inovasi ekonomi baru muncul ketika proses “imitasi” tadi tidak mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan masyarakat yang dinamis dan terus berkembang. Inovasi juga muncul ketika masyarakat menghadapi beragam keterbatasan. Kreativitas lahir untuk menyiasati problematika ekonomi yang ada. Inovasi adalah ciri masyarakat yang optimis, meski menghadapi kendala keterbatasan sumberdaya ekonomi. Inovasi adalah kunci survival. Ibn Tufail memandang bahwa kompetisi adalah sebuah fakta dalam kehidupan ekonomi masyarakat. Tapi kompetisi akan merusak jika orientasinya adalah untuk saling melemahkan para pelaku ekonomi yg ada. Secara makro, tidak baik.karena itu Ibn Tufail mengatakan, kelemahan seseorang harus ditutupi oleh kelebihan yang lain. Sehingga ekonomi akan kuat.Ta’awwun (tolong menolong) antar pelaku ekonomi, akan memberikan manfaat positif yang lebih besar bagi sebuah masyarakat/bangsa .Ibn Tufail juga menegaskan bahwa manufaktur dapat memperkuat pembangunan pertanian dan pemanfaatan sumberdaya alam .Perkembangan industri manufaktur, menurut Ibn Tufail, tergantung pada kemampuan SDM masyarakat untuk memaksimalkan potensi  dimilikinya.Industri manufaktur akan berkembang ketika didukung oleh pengembangan ilmu dan teknologi yang tepat, yang bisa memaksimalkan sumberdaya yang ada.Ibn Tufail juga menekankan pentingnya pembangunan SDM dalam menciptakan kemajuan dan kesejahteraan ekonomi.SDM menurut Ibn Tufail, adalah adaptive dan creative being, dan juga tool-making being.Adaptive dan creative being artinya manusia itu mampu mengubah kondisi alam dan lingkungan sesuai kebutuhannya juga menciptakan perubahan- perubahan sebagai tool-making being, SDM adalah kunci perkembangan proses industrialisasi di tengah masyarakat, dengan berbasis pada sumberdaya yang ada. Karena itu, moralitas manusia perlu dijaga, karena amoralitas adalah sumber kekacauan dan konflik ekonomi yang merugikan masyarakat. Ciri moralitas itu antara lain ditentukan oleh perilaku konsumsi seseorang.Ketika terjadi over konsumsi, yang berarti isyraf, maka prilaku serakah itu akan menciptakan ketidakseimbangan ekonomi.Karena itu, Ibn Tufail mengecam prilaku isyraf (berlebih-lebihan) dan serakah, karena keduanya justru menjadi sumber masalah sosial ekonomi masyarakat . Pengendalian perilaku over konsumtif dan keserakahan masyarakat, memberikan dampak positif bagi masyarakat/bangsa secara keseluruhan 







REFERENSI

Nasution, Hasyimsyah, Filsafat Islam, Jakarta; Gaya Media Pratama, 2005.

http://alhakelantan.tripod.com/imagelib/sitebuilder/layout/spacer.gif
http://alhakelantan.tripod.com/imagelib/sitebuilder/layout/spacer.gif

                               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar