MAKALAH SEJARAH PEMIKIRAN MODERN
”Abu Bakr Ibn Tufayl Dokter Agung dan Pengarang Kisah Fiksi Hayy ibn Yaqzan - Si
Pencari Tuhan ”
Trisakti Agriani NIM. 105110100111020
Trisakti Agriani NIM. 105110100111020
KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
PROGRAM STUDI SASTRA INGGRIS
FAKULTAS ILMU
BUDAYA
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
A. Biografi singkat Abu Bakr Ibn Tufayl
Nama
lengkap Ibnu Thufayl adalah Abu Bakr
Muhammad Ibn ‘Abd al-Malik ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Tufayl al-Qaysi. Lewat
karya-karya tulisnya, Ibnu Thufayl dikenal sebagai salah satu filosof Spanyol
yang menganut
Neo-Platonis (al-aflatuniyat
al-muhdatha), sebuah sintesa kreatif antara Pythagorian, Platonis,
Aristotelian, dan filosofi Stoic, yang diramu dengan spirit relijius. Ibnu Thufayl merupakan sebuah figur “perlawanan
Andalusia” terhadap astronomi Ptolemaic, sebuah gerakan kritis yang kemudian
dilanjutkan oleh teman sekaligus murid dari ibnu Thufayl, yakni al-Bitruji. Di barat
beliau dikenal dengan sebutan Abubacer. Ia dilahirkan di guandix,
40 Mil di laut Granada pada 506 H (1110 M) dan meninggal di kota Marraqesh,
maroko pada 581 H (1185 M). Sebagai seorang turunan suku Quasy, suku arab
termuka, beliau dengan mudah mendapatkan fasilitas belajar, apalagi kecintaannya
kepada buku-buku dan ilmu pengetahuan mengalahkan cintanya kepada manusia.
Hal ini mengantarkannya
menjadi seorang ilmuwan dalam banyak bidang, seperti lazimnya ilmu pada masa itu,
meliputi kedokteran, kesustraan, matematika, dan filsafat. Kedokteran dan
filsafat di pelajarinya di Seville gordova.Dia menulis beberapa buku
mengenai filsafat murni yang sudah jarang sekali ditulis, termasuk pemeliharaan
jiwa lewat filsafat. Setelah beranjak dewasa, Ibnu
Tufail berguru kepada Ibnu Bajjah (1100-1138 M), seorang ilmuwan besar yang
memiliki banyak keahlian. Berkat bimbingan sang guru yang multitalenta itu,
Ibnu Tufail pun menjelma menjadi seorang ilmuwan besar.Pada mulanya ia adalah
seorang yang ahli dalam bidang kedokteran, dan menjadi terkenal di bidangnya itu.Keahlianya
dalam bidangnya telah dipraktekkan nya di Granada.Kemudian ketenarannya sebagai
dokter itu membawa namanya lebih dikenal di dalam pemerintahan, sehingga dia
diambil oleh gubernur Granada menjadi sekretarisnya.Pada tahun 549 H ia
dipindahkan menjadi sekretaris pribadi gubernur Ceuta. Keharuman namanya kian
semerbak sehingga ia diangkat oleh Abu Ya’qub Yusuf Al-Manshur khalifah daulah
Muwahhidin menjadi dokter pribadi
merangkap sebagai wazirnya. Dan beliau juga meminta kepada Ibnu Thufail
untuk menguraikan buku-bukunya Aristoteles.Untuk memenuhi permintaan tersebut,
Ibnu Thuffail menghadapkan Abd Walid Ibn Rusyd kepada khalifah dan mencalonkan
untuk pekerjaan tersebut. Al-Walid diterima dengan baik oleh khalifah dan
menunaikan pekerjaanya dengan baik .
Selain
dikenal sebagai dokter dan filsuf besar, Ibnu Tufail menguasai ilmu hukum dan
ilmu pendidikan. Ibnu Tufail pun dicatat
dalam sejarah peradaban Islam sebagai seorang penulis, novelis, dan ahli agama.Ibnu
Thufail sebenarnya mempunyai banyak karya, baik dalam bidang filsafat maupun
yang lain (fisika dan sastra).Dari sejumlah karyanya yang dinisbatkan
kepadanya, diantaranya adalah Risalah fi Asrar al-hikmah al-Masyriqiyah (Hayy
ibn Yaqzhan)Rasa’il fi an-Nafs, Biqa’ al-Maskunah wa Al-Ghair al-Maskunah.Selain
itu, dia juga memiliki beberapa buku tentang kedokteran, serta risalah yang
berisi sekumpulan surat-menyurat yang ia lakukan dengan ibn Rusyddalam berbagai
persoalan filsafat.Ibn Rusyd menyatakan bahwa ibn Thufail mempunyai teori-teori
yang cemerlang dalam lmu falak.Ibnu Tufail juga termasyhur sebagai seorang
politikus ulung. Kariernya di bidang politik dan pemerintahan juga terbilang
sangat baik. Ia sempat ditahbiskan sebagai pejabat
di pengadilan Spanyol Islam. Tak cuma itu, Ibnu Tufail pun dipercaya Sultan
Dinasti Muwahiddun menduduki jabatan menteri hingga menjadi gubernur untuk
wilayah Sabtah dan Tonjah di Magribi dan sekretaris penguasa Granada.
Ketika usia
beliau sudah lanjut, ia meminta berhenti dari jabatan nya yang diajukan untuk
menduduki jabatan tersebut.Meskipun ibnu Thuffail sudah bebas dari jabatanya,
namun penghargaan Abu Ya’kub masih seperti dulu, malahan setelah khalifah Abu
Ya’kub meninggal dan diganti dengan oleh putranya Abu Yusuf Al-Mansyur
penghargaan itu masih tetap diterima oleh ibnu Thuffail.Ketika ibnu Tuffail
meninggal dunia di Maroko pada tahun 581 H(1185 M)Abu Yusuf pun ikut menghadiri
pemakaman jenazahnya.
Namun yang menjadi kunci dari rekonsiliasi dari
pemikirannya adalah fabel filsafat yang dia tulis, berjudul Hayy
Ibn Yaqzan.
B. Pemikiran Abu Bakr Ibn Tufayl
·
Filsafat
Inti dari pemikiran ibn
tuffayl termuat dalam karyanya Hayy Ibn Yaqzhan. Antara akal dan wahyu tidaklah
memiliki kontradiksi yang begitu besar. Bahkan keduanya dapat memiliki satu
visi dan tujuan yang sama tentang kebenaran. Dan juga akan memiliki titik
keindahan bila keduanya dapat digabungkan. Bahwa jalan yang ditunjukkan oleh
agama dapat diperoleh dengan intelektualitas manusia, yang cenderung berhasrat
untuk terus bertanya dan mencoba menjawab apa yang ada, dan juga oleh wahyu
yang dapat dijadikan petunjuk tetap menuju satu kebenaran. Keduanya sama-sama
dapat menuju kebenaran, demikian pesan yang ingin disampaikan Ibn Thufail pada
kita dalam karya monumentalnya, Hayy Ibn Yaqdzan. Dalam karyanya ini, Ibn Thufail seperti
merasa jengah dengan pertikaian dua proyektor besar dalam proses pencarian
kebenaran, filsafat dan wahyu. Pertikaian yang diledakkan oleh al-Ghazali
dengan Tahafut al-Falasifah-nya, menentang Ibn Sina dan al-Farabi dengan ajaran
Aristotelian mereka. Pertikaian yang pada dasarnya ada pada ketidaksetujuan
al-Ghazali yang fokus pada tiga ajaran para filososof, terutama Ibn Sina dan
al-Farabi, tentang keabadian alam, penolakan bangkitnya jasmani setelah mati,
dan pengetahuan Tuhan yang universal. Ketiga hal yang benar-benar dianggap oleh
al-Ghazali sebagai penyalahgunaan rasio untuk menyelewengkan agama.Pertikaian
ini coba didamaikan Ibn Thufail dengan
mengatakan bahwa antara keduanya tidaklah jauh berbeda dalam memandang
kebenaran yang sama, eksternal dan internal. Pemahaman agama melalui wahyu dan
pemahaman agama melalui penalaran, melihat kebenaran dari sisi yang berbeda
dengan hakikat yang sama.
·
Dunia
Apakah dunia itu kekal, atau diciptakan dari ketiadaan atas kehendak-Nya.Inilah
salah satu masalah penting yang paling menentang dalam filosofis muslim Ibnu
Tufail sejalan dengan kemahiran dialektisnya menghadapi masalah itu dengan
tepat. Dia tidak menganut salah satu doktrin saingannya, dan dia juga tidak
berusaha mendamaikan mereka. Dilain pihak dia mengecam dengan pedas pengikut
Aristoteles dan sikap-sikap teologis. Kekekalan dunia melibatkan konsep
eksistensi tak terbatas. Eksistensi semacam itu tidak dapat lepas dari
kejadian-kejadian yang diciptakan dan tidak mungkin ada sebelum kejadian-kejadian
yang tercipta itu pasti tercipta secara lambat laun.Ia mengemukakan bahwa
gagasan mengenai kemaujudan sebelum ketidak maujudan tidak dapat difahami tanpa
anggapan bahwa waktu itu telah ada sebelum dunia ada, akan tetapi waktu itu
sendiri merupakan suatu kejadian tak terpisahkan dari dunia, dan karena itu
kemaujudannya mendahului kemaujudan dunia. Segala yang tercipta pasti
membutuhkan pencipta. Tidak ada sesuatupun ada sebelum Dia, dan segala sesuatu
pasti ada dan akan terjadi atas kehendak-Nya. Antinomi (kontradiksi antar
prinsip) ini dengan jelas menerangkan bahwa kemampuan nalar (Kant) ada batasnya
dan argumentasinya akan mendatangkan kontradiksi yang membingungkan.
·
Tuhan
Penciptaan dunia yang lambat laun itu mensyaratkan adanya satu pencipta
yang mesti bersifat immaterial, sebab materi yang merupakan suatu kejadian
dunia diciptakan oleh satu pencipta. Dunia tak bisa maujud dengan sendirinya,
pasti dan harus ada penciptanya.Jika
Tuhan bersifat material, maka akan membawa suatu kemunduran yang tiada akhir.
Oleh karena itu, dunia ini pasti mempunyai pencipta yang tidak berwujud benda,
dan karena Dia bersifat immaterial, maka kita tidak bisa mengenali-Nya lewat
indera kita atau lewat imajinasi. Sebab imajinasi hanya menggambarkan hal-hal
yang dapat ditangkap oleh indera.
·
Kosmologi Cahaya.
Manifestasi kemajemukan dari yang satu dijelaskan dalam gaya
Neo-Platonik yang monoton, sebagai tahap berurutan pemancaran yang berasal dari
cahaya Tuhan.Proses tersebut pada prinsipnya sama dengan refleksi terus menerus
cahaya matahari pada cermin. Cahaya matahari yang jatuh pada cermin menunjukkan
kemajemukan. Semua itu merupakan pantulan cahaya matahari, bukan matahari itu
sendiri, juga bukan cermin itu sendiri. Hal
yang sama berlaku juga pada cahaya pertama (Tuhan) beserta perwujudannya di
dalam kosmos.
·
Epistimologi
Jiwa dalam tahap awalnya bukanlah suatu tabula rasa atau papan
tulis kosong. Melainkan Imaji Tuhan telah tersirat didalamnya sejak awal,
tetapi untuk menjadikannya tampak nyata, kita perlu memulai dengan pikiran yang
jernih tanpa prasangka.Pengalaman merupakan suatu proses mengenal lingkungan
lewat indera. Organ-ogan indra ini berfungsi berkat jiwa yang ada dalam hati.
Pengamatan memberi kita pengetahuan mengenai benda-benda yang induktif, dengan
alat pembanding dan pembedanya dikelompokkan menjadi mineral, tanaman, dan
hewan. Setiap kelompok benda ini memperlihatkan fungsi-fungsi tertentu yang
membuat kita menerima bentuk-bentuk atau jiwa-jiwa sebagai penyebab
fungsi-fungsi tertentu berbagai benda.Ibnu
Tufail akhirnya berpaling kepada disiplin jiwa yang membawa kepada ekstase,
sumber tertinggi pengetahuan. Dalam taraf ini, kebenaran tidak lagi dicapai
lewat proses deduksi atau induksi, melainkan secara langsung dan intuitif lewat
cahaya yang ada didalamnya. Jiwa menjadi sadar diri dan mengalami apa yang tak
pernah dilihat mata, didengar telinga, atau dirasa oleh hati.
·
Etika
Bukan kebahagiaan duniawi, melainkan penyatuan sepenuhnya dengan
Tuhanlah yang merupakan “summum bukmun” (kebaikan tertinggi) etika.
Perwujudannya setelah pengembangan akal induktif dan deduktif.Menurutnya
manusia merupakan perpaduan suatu tubuh jiwa hewani dan esensi non-bendawi,
dengan demikian menggambarkan binatang, angkasa, dan Tuhan. Karena itulah
pendakian jiwanya terletak pada pemuasan ketiga aspek tersebut. Pertama, ia
terikat untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya serta menjaganya dari cuaca buruk dan
binatang buas. Kedua, menuntut darinya kebersihan pakaian dan tubuh, kebaikan
terhadap objek-objek hidup dan tak hidup. Ketiga, yaitu pengetahuan, kekuasaan,
kebijaksanaan, kebebasan dari keinginan jasmaniah.
·
Filsafat dan Agama
Filsafat dilain pihak merupakan bagian dari kebenaran esoteris. Ia berupaya menafsirkan lambang-lambang
agama tentang konsep-konsep imaji murni yang berpuncak pada suatu keadaan yang
didalamnya terdapat esensi ketuhanan dan pengetahuannya menjadi satu. Persepsi
rasa, nalar, dan intuisi merupakan dasar-dasar pengetahuan filsafat. Para nabi
pun memiliki intuisi, sumber utama pengetahuan mereka adalah wahyu Tuhan.
Pengetahuan nabi didapat secara langsung dan pribadi, sedangkan pengetahuan
para pengikutnya didapat dari wasiat.
·
Jiwa
Konsep
ibn thufail tentang sejiwa sejalan dengan yang dikemukakan oleh Al-Farabi,
yakni ada tiga kategori yaitu :
a. Pertama : jiwa
fadhilah, yakni yang kekal dalam kebahagiaan karena mengenal tuhan dan terus
mengarahkan perhatian dan renungan kepadan-nya.
b. Kedua : Jiwa
fasiqoh, yakni jiwa yang kekal dalam kesengsaraan dan tempatnya di Neraka.
c. Ketiga : jiwa
jahiliyah, yakni jiwa yang musnah karena karena tidak mengenal allah sama
sekali, jiwa jenis ini sama halnya dengan hewan melata.
Ibn thufail
menawarkan tiga jenis amaliah yang harus di terapkan dalam hidup, ketiganya
adalah :
1.
Amaliah yang menyerupai hewan.
2.
Amaliah yang menyerupai benda angkasa, dan
3.
Amaliah yang menyerupai al-wajib al-wujud.
Amaliah yang
pertama sedikit unik, karena amaliah tersebut dibutuhkan tetapi juga menjadi
penghalang untuk meningkat kepada amaliah berikutnya yang lebih tinggi, amaliah
yang kedua adalah hubungan yang baik dengan dibawahnya, dengan dirinya dan
dengan tuhannya. Amaliah ketiga ini akan mampu mengantar kepada kebahagiaan
abadi sebagai sasaran akhir dari prinsip moral. Ibn Thufail mengajarkan agar jiwa berhubungan atau musyahadah
secara terus menerus sejak dari kehidupan di dunia sampai kehidupan abadi. Upaya
kearah itu dengan renungan kontemplatif dan fana-mistika. Manusia dapat
berhubungan dan menyaksikan tuhannya tidak saja dengan akalnya, juga melalui
rohaninya.
·
Sinopsis Buku Hayy
Ibn Yaqzan karya Abu Bakr Ibn Tufayl
Hayy itu seorang
anak alam, yang terlahir sendiri pada suatu pulau terpencil, kemudian melalui
tujuh siklus tujuh tahun memperoleh, berkat pemikiran sendiri, derajat
kebijaksanaan tertinggi.Hayy, setelah lahir menangis kehausan lalu
disusui oleh seekor rusa betina dan dibimbing olehnya selama tujuh tahun. Hayy
bergaul dengan margasatwa dan belajar dari mereka, olah dan meniru tingkah
lakunya dalam mencari rezeki dan bertahan hidup. Segera dia merasa malu karena
di tengah-tengah hewan lain yang semuanya berpakaian alam hany dia sendiri
bertelanjang, tanpa bulu atau ekor untuk menutupi aurat, dan tanpa cakar atau
tanduk untuk membela diri. Maka dia membuat cawat dari daun-daunan tapi itu
ternyata lekas rusak, lalu dia membuat serat yang ditenun dan dijahit menjadi
pakaian. Untuk pengganti tanduk dia membuat alat-alat untuk membela diri dan
berburu, dari kulit hewan dibuatnya sepatu dan dia juga memndirikan tempat
berteduh.Ketika Hayy masuk tujuh tahun kedua, rusa yang mengasuhnya mati. Dia
heran sekali. Tubuh rusa tidak berubah, mengapa dia tidak bergerak lagi? Hayy
lalu membedah tubuh rusa, menyelidiki organ-organnya dan darah, sampai mengerti
bahwa jantung merupakan organ yang menghidupkan tubuh. Penemuan itu
mengasikkannya, sehingga setiap mayat yang ditemukannya disayat dan diselidiki.
Sehingga Hayy tidak saja mahir dalam ilmu anatomi tapi juga belajar bahwasanya
masing-masing kegiatan badaniyah digerakkan oleh satu daya/kekuatan sentral
yang tidak bersifat material jasad, melainkan bersifat RUHANI. Kekuatan itu
disebutnya JIWA.
Pada usia 21 tahun Hayy memperoleh kesadaran diri sebagai pribadi, yang secara asasi satu, tetapi mampu untuk mengetahui aneka warna hal, asal dipersatukan dengan akal. Dia merenungkan tentang tatatertib dan tujuan segala-galanya dan menemukan adanya hubungan wajib antara sebab dan akibat yang menguasai tata alam raya dan tata budi.Tujuh tahun kemudian (pada usia 28 tahun) budinya terbuka untuk menggunakan silogisme sebagai jalan pengetahuan baru. Dia menatap cakrawala, mempelajari gerak bintang-bintang dan matahari, lalu menjadi mahir dalam ilmu falak atau astronomi.
Pada usia 35 tahun timbullah pertanyaan mengenai asal mula alam dunia. Bila alam berasal dari alam materiil lain, akan terdapat proses berantai tanpa akhir(tasalsul) dan ini mustahil. Jadi kesimpulannya; alam pasti dibuat oleh pembuat alam yang bersifat Ruhani/Ghoib. Bertahun-tahun lamanya Hayy berfikir tentangnya. Selama tujuh tahun keenam Hayy tidak habis memikirkan tentang sumber mulia dari segala yang ada. DIA pasti Maha Baik dan Maha Bijaksana, Sempurna dan penuh Rahmat serta merupakan tujuan manusia. Demikian Hayy menyusun konsep ketuhananan tanpa dogmatisme ataupun pertolongan wahyu. Hayy menjadi insaf bahwa tujuan, kebahagian dan perwujudan diri sejati terletak pada konsentrasi pikiran terus-menerus kepada Tuhan. Itulah juga dalam “hidup di balik maut”, karena jiwa sebagai wujud ruhani tidak mungkin hancur. Dia juga tahu bahwa, bila jiwa insani, yang diperuntukkan untuk untuk hidup abadi di hadirat Tuhan, mengikuti hawa nafsu maka pasti kehilangan Tuhan dan setelah maut akan menderita selama-lamanya. Itulah fikiran yang menggelisahkan Hayy. Seumpamanya dia, terkejut oleh teriakan hewan atau sibuk memuaskan lapar dahaga, lupa akan Tuhan dan terkena mati, adia akan dihukum atas kelalaiannya dengan hukuman abadi. Maka Hayy makin berprihatin untuk memusatkan fikirannya kepada Tuhan. Hayy hanya makan dan minum sejauh perlu, agar jangan mengganggu meditasinya. Dia meniru falak-falak sempurna oleh pembersihan diri dan berjalan dalam lingkaran (thawaf) sesuai peredaran falak di atasnya sampai merasa pusing.
Sesudah tujuh kali tujuh tahun lewat, Hayy memperoleh puncak meditasi, tetap mengingati Tuhan dalam keadaan jiwa yang tak mungkin dapat diungkapkan dengan kata-kata. Itulah kebahagiaan sempurna “yang tidak dapat dilihat mata, tidak didengar oleh telinga, dan tidak keluar dari hati manusia”. Dia mendapatkan taraf fana billah.
Terkisahlah pada suatu pulau yang lain terdapat dua orang muslim yang bertengkaran tentang hidup yang baik, Absal dan Salaman nama masing-masing. Absal, seorang ahli tasawwuf, berusaha memahami dimensi batin dari syariat, sedangkan Salaman menta'ati semua peraturan dan upacara lahir. Maka Absal pamit dari Salaman, dan dalam mencari jalan keluar mendaratlah dia di pulau kediaman Hayy. Mereka memberitakan satu kepada yang lain pengalaman ruhani dan menyadari diri sebagai manusia untuk Tuhan.
Hayy mendengar isi ajaran Islam, sangat terkejut: isi ruhaninya terlalu sedikit dan terlalu banyak aturan lahiriah tentang fardhu, sunah, mubah, makruh dll. Hayy heran bahwa hanya satu bulan per tahun disucikan oleh puasa bagi Tuhan.Mengapa bukan semua bulan? Dia tersinggung oleh lukisan sensuil tentang surga dan waktu terbatas neraka menurut Qur'an, Setelah banyak tukar fikiran, akhirnya Absal menemui jalan ke tafsir kiasan (thamthil) mengenai Qur'an. Lalu keduanya mengambil keputusan untuk kembali ke pulau kediaman Salaman dan mengajar kepada ummat disana rahasia hidup sejati.
Tibalah mereka di pulau dan disambut oleh Salaman, yang ternyata telah diangkat menjadi Raja di sana. Tetapi ketika mereka menda'wahkan keyakinan suci mereka, maka rakyat membantah dan bertengkar mulut, memperlihatkan diri sebagai budak huruf yang tidak terbuka untuk kebenaran mulia. Hayy dengan sopan meminta maaf dan mengajak mereka agar terus tekun pada upacara dan rukun agamanya tanpa mencoba memperdalamnya lebih lanjut. Akhirnya Hayy dan Absal kembali ke pulau tempat asal Hayy, melangsungkan hidupnya masing-masing menurut metodenya sendiri, mereka berusaha menempuh tata ibadah sempurna, terpisah dari masyarakat sampai ditebus oleh maut.
Pada usia 21 tahun Hayy memperoleh kesadaran diri sebagai pribadi, yang secara asasi satu, tetapi mampu untuk mengetahui aneka warna hal, asal dipersatukan dengan akal. Dia merenungkan tentang tatatertib dan tujuan segala-galanya dan menemukan adanya hubungan wajib antara sebab dan akibat yang menguasai tata alam raya dan tata budi.Tujuh tahun kemudian (pada usia 28 tahun) budinya terbuka untuk menggunakan silogisme sebagai jalan pengetahuan baru. Dia menatap cakrawala, mempelajari gerak bintang-bintang dan matahari, lalu menjadi mahir dalam ilmu falak atau astronomi.
Pada usia 35 tahun timbullah pertanyaan mengenai asal mula alam dunia. Bila alam berasal dari alam materiil lain, akan terdapat proses berantai tanpa akhir(tasalsul) dan ini mustahil. Jadi kesimpulannya; alam pasti dibuat oleh pembuat alam yang bersifat Ruhani/Ghoib. Bertahun-tahun lamanya Hayy berfikir tentangnya. Selama tujuh tahun keenam Hayy tidak habis memikirkan tentang sumber mulia dari segala yang ada. DIA pasti Maha Baik dan Maha Bijaksana, Sempurna dan penuh Rahmat serta merupakan tujuan manusia. Demikian Hayy menyusun konsep ketuhananan tanpa dogmatisme ataupun pertolongan wahyu. Hayy menjadi insaf bahwa tujuan, kebahagian dan perwujudan diri sejati terletak pada konsentrasi pikiran terus-menerus kepada Tuhan. Itulah juga dalam “hidup di balik maut”, karena jiwa sebagai wujud ruhani tidak mungkin hancur. Dia juga tahu bahwa, bila jiwa insani, yang diperuntukkan untuk untuk hidup abadi di hadirat Tuhan, mengikuti hawa nafsu maka pasti kehilangan Tuhan dan setelah maut akan menderita selama-lamanya. Itulah fikiran yang menggelisahkan Hayy. Seumpamanya dia, terkejut oleh teriakan hewan atau sibuk memuaskan lapar dahaga, lupa akan Tuhan dan terkena mati, adia akan dihukum atas kelalaiannya dengan hukuman abadi. Maka Hayy makin berprihatin untuk memusatkan fikirannya kepada Tuhan. Hayy hanya makan dan minum sejauh perlu, agar jangan mengganggu meditasinya. Dia meniru falak-falak sempurna oleh pembersihan diri dan berjalan dalam lingkaran (thawaf) sesuai peredaran falak di atasnya sampai merasa pusing.
Sesudah tujuh kali tujuh tahun lewat, Hayy memperoleh puncak meditasi, tetap mengingati Tuhan dalam keadaan jiwa yang tak mungkin dapat diungkapkan dengan kata-kata. Itulah kebahagiaan sempurna “yang tidak dapat dilihat mata, tidak didengar oleh telinga, dan tidak keluar dari hati manusia”. Dia mendapatkan taraf fana billah.
Terkisahlah pada suatu pulau yang lain terdapat dua orang muslim yang bertengkaran tentang hidup yang baik, Absal dan Salaman nama masing-masing. Absal, seorang ahli tasawwuf, berusaha memahami dimensi batin dari syariat, sedangkan Salaman menta'ati semua peraturan dan upacara lahir. Maka Absal pamit dari Salaman, dan dalam mencari jalan keluar mendaratlah dia di pulau kediaman Hayy. Mereka memberitakan satu kepada yang lain pengalaman ruhani dan menyadari diri sebagai manusia untuk Tuhan.
Hayy mendengar isi ajaran Islam, sangat terkejut: isi ruhaninya terlalu sedikit dan terlalu banyak aturan lahiriah tentang fardhu, sunah, mubah, makruh dll. Hayy heran bahwa hanya satu bulan per tahun disucikan oleh puasa bagi Tuhan.Mengapa bukan semua bulan? Dia tersinggung oleh lukisan sensuil tentang surga dan waktu terbatas neraka menurut Qur'an, Setelah banyak tukar fikiran, akhirnya Absal menemui jalan ke tafsir kiasan (thamthil) mengenai Qur'an. Lalu keduanya mengambil keputusan untuk kembali ke pulau kediaman Salaman dan mengajar kepada ummat disana rahasia hidup sejati.
Tibalah mereka di pulau dan disambut oleh Salaman, yang ternyata telah diangkat menjadi Raja di sana. Tetapi ketika mereka menda'wahkan keyakinan suci mereka, maka rakyat membantah dan bertengkar mulut, memperlihatkan diri sebagai budak huruf yang tidak terbuka untuk kebenaran mulia. Hayy dengan sopan meminta maaf dan mengajak mereka agar terus tekun pada upacara dan rukun agamanya tanpa mencoba memperdalamnya lebih lanjut. Akhirnya Hayy dan Absal kembali ke pulau tempat asal Hayy, melangsungkan hidupnya masing-masing menurut metodenya sendiri, mereka berusaha menempuh tata ibadah sempurna, terpisah dari masyarakat sampai ditebus oleh maut.
· Falsafah Pemikiran Abu
Bakr Ibn Tufayl melalui Buku
mahakaryanya Hayy Ibn Yaqzan
| |||||||
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar